Archive for August, 2006

idealisme

Thursday, August 24th, 2006

Idealisme didasari kata ideal. Kita punya suatu pikiran atau ide tentang suatu hal dan menjadikannya sebagai parameter kondisi ideal menurut kita. Idealisme yang kuat, itu bagus. Malah sangat bagus. Kita terus pertahankan hal-hal yang menurut kita benar dan kita jadi ga mudah kebawa arus. Dengan idealisme yang tinggi dan kemampuan bersosialisasi yang bagus, kita akan mampu membuat orang menjadi memiliki idealisme yang sama dengan kita dan lama kelamaan kondisi ideal menurut kita itu akan terwujud. Semua dimulai dari idealisme.

Seseorang dikatakan sebagai “pejuang” karena dia berani membela idealismenya apa pun resikonya walaupun dia tidak mendapat dukungan dari pihak lain. Ada suatu kejadian dimana si pejuang berada di dalam sebuah sistem yang kuat dan sistem itu bergerak berlawanan dengan idealismenya. Bayangkan rezim suharto dimana tiap ada sedikit suara tentang perlawanan, sumber suara itu langsung dieksekusi. Sistem ini mirip seperti rezim suharto walaupun hanya sebatas ruang lingkup kecil, anggaplah universitas.

Dia ingin terus mempertahankan idealismenya, tapi kalau sampai terdengar oleh pengendali sistem, dia akan di keluarkan dari sistem itu. keluar aja dari sistem! Ga segampang itu, orangtuanya udah ngeluarin banyak biaya untuk dia bertahan di sistem itu. dan satu hal lagi, sistem itu merupakan salah satu sistem dengan output terbaik dan memudahkan outputnya untuk memperoleh kehidupan yang layak.

1. terus pertahankan idealismenya dan beresiko dieksekusi?
2. menyesuaikan diri dengan realita walaupun berarti terpaksa menghilangkan idealismenya?

DAMAIroom, 23 agustus 2006
bergas bimo branarto

pembodohan

Thursday, August 24th, 2006

Seseorang berkata dengan lantang bahwa kita harus memerangi segala bentuk pembodohan. Kita sebut saja namanya joksan (bukan nama sebenarnya). Dia menyerukan pada khalayak bahwa pemaksaan dan kekerasan adalah salah satu bentuk pembodohan, dan hal itu harus ditolak mentah-mentah. Ada suatu waktu ketika khalayak telah mendengar dan memikirkan tentang hal itu, mereka memilih untuk mengikuti sebuah program yang disusun oleh kakak-kakaknya, dan program itulah yang disebut oleh joksan sebagai satu bentuk pembodohan. Kita sebut saja program itu sebagai OSKM (bukan nama sebenarnya).

Program yang bertemakan “belajar, sadar, kontribusi” dan berkegiatan bakti sosial masyarakat itu ditujukan sang kakak kepada adik2nya dengan tujuan agar sang adik memahami segala masalah yang terjadi di lingkungan sekitar kehidupannya dan mampu berkontribusi nyata untuk memberikan solusi. Dan pilihan untuk mengikuti program itu diserahkan sepenuhnya pada si adik, tanpa paksaan sedikitpun dari sang kakak. Joksan, yang kebetulan berposisi sebagai kepala di institusi tersebut melarang sang adik untuk mengikuti OSKM. Adik2 yang telah memutuskan untuk ikut OSKM (setelah melalui segala bentuk pertimbangan pribadi) diancam oleh joksan bahwa kalau mereka ikut OSKM, status mereka sebagai warga baru institusi tersebut akan dipertimbangkan.

Dengan hebatnya sang adik tetap teguh dengan hasil pemikirannya sendiri untuk tetap ikut OSKM. Joksan tidak terima anak barunya diberi “pembodohan” seperti itu, dia pun mengambil jalan lain yaitu dengan mengancam sang kakak akan dipecat dari institusi jika tetap menjalankan program tersebut. Tetap dengan alasan joksan tidak mau anak barunya menerima “pembodohan” dari sang kakak.

Kini program telah terlaksana, tanpa pemaksaan, tanpa kekerasan. Bakti sosial masyarakat tetap dijalankan dengan minimnya peserta. Tetapi joksan tetap akan memecat sang kakak walau telah ada bukti nyata hasil positif dari program tersebut dengan alasan sang kakak tetap melaksanakan program “pembodohan” walaupun telah dilarang. Lingkungan kini bersih, khalayak sadar dan siap berkontribusi untuk semua masalah di lingkungan.

Ada empat pertanyaan mendasar muncul dari pikiranku:
1. pembodohan apa yang kami lakukan?
2. joksan ingin menghentikan pembodohan dengan metode pembodohan?
3. kenapa kreativitas kami harus dimatikan?
4. bisakah kita bersatu untuk memberikan solusi tentang masalah ini?

Semua yang kita lakukan dilandasi tujuan memberikan yang terbaik untuk tuhan (bagi yang percaya), bangsa dan almamater. Kita insan ilmiah yang selalu bersikap objektif, berpikiran jernih dan terbuka untuk mendiskusikan perbedaan. Kita tidak menginginkan sebuah peperangan, yang kita butuhkan cuma kejelasan dan kebenaran.

DAMAIroom, 23 agustus 2006
Bergas bimo branarto

the life of mine

Thursday, August 17th, 2006

Hari-hariku
berjalan senada dengan sinusoida kehidupan. Pada satu medium lurus, hari-hariku
berjalan merambat naik turun secara bergiliran dan dalam ritme yang teratur.  Kurva itu bergerak teratur, bahkan sangat
teratur. Dalam tiap momentum, aku berpikir bahwa pergerakan itu tercipta karena
kontrol yang kubuat sendiri. Ternyata bukan begitu kondisinya.

 

Seperti adanya
suatu sistem kontrol yang melingkupi, saat aku bergerak terlalu ke atas ada
yang menahan dan lalu menurunkan lagi ketinggianku. Terus aku bergerak turun,
saat akan turun terlalu jauh dari medium
standar, sesuatu itu mengaktifkan suatu sistem yang mendorongku dengan gaya
berlawanan dengan grafitasi sehingga aku terdorong lagi ke atas dengan
kecepatan konstan. Begitu terus.

 

Tidak stabil?
Salah besar. Justru di situlah letak kestabilannya. Kurvaku berjalan seperti
sistem on-off, dimana grafik berjalan naik-turun dengan amplitudo konstan, tapi
lama kelamaan berubah menjadi sistem proporsional, dimana grafik naik-turun
tapi perlahan aplitudonya mengecil hingga mendekati nol. Saat amplitudo
mendekati nol, maka grafik dikatakan mendekati “settle point”.

 

Bayangkan bahwa
diatas medium standar adalah warna putih polos, dan di bawah medium standar
adalah warna hitam polos. Dengan adanya kontrol tadi aku tertahan untuk tidak
berjalan ke arah putih polos yang membosankan dan menyilaukan. Dan aku juga
tidak berjalan terus ke arah hitam pekat yang mencekam dan mengancam. Aku
diatur untuk memadukan keduanya sehingga grafikku memiliki warna paduan hitam
dan putih. Bukan abu-abu, tapi membentuk pola hitam dan putih yang sangat
menarik.

 

Saat grafikku mulai
melonjak-lonjak tanpa aturan yang menahan, saat itu 15<t<20 dimana t
dinyatakan dalam satuan tahun, hanya ada satu sistem kontrol yang menjaga
perpaduan hitam dan putih dalam sinusoida hidupku. Cuma dia yang menjagaku dari
perang politik hitam-putih. Dia membawaku tetap objektif melihat dua perbedaan
itu dari luar sehingga aku tidak terlibat penuh di dalam kehampaan keduanya.

 

Thanx ry, you set
me to the settle point..

i owe you
everything…

DAMAIroom, 1 agustus 2006

 Bergas bimo branarto

in harmonia progressio

Thursday, August 17th, 2006

Saat suatu slogan
berbunyi tanpa dibarengi dengan maknanya, aku membuat kesimpulan bahwa sang
pembaca bebas membuat suatu kesimpulan sendiri berkaitan dengan slogan
tersebut. Saat aku baca “in harmonia progressio”, hal pertama yang kebayang
olehku adalah suatu pergerakan atau proses yang berharmoni atau
berkesinambungan atau seimbang. Kesimpulan umum yang kubuat adalah “pergerakan
yang seimbang”.

 

Aku adalah
seorang mahasiswa. Kita tau bersama bahwa mahasiswa memiliki potensi, posisi
dan peran dalam kehidupan. Dan dari kehidupan sehari-hari aku menangkap ada
tiga pergerakan yang dialami manusia secara umum, yaitu : akademis, organisasi
dan cinta. Sesuai slogan yang tertera di atas, berarti ketiga pergerakan
tersebut harus berjalan seimbang.

 

Potensi mahasiswa
bisa dikategorikan sebagai : iron stock (generasi penerus), agent of change
(pembawa perubahan), guardian of value (penjaga nilai). Dan posisi kita ada
tiga yaitu : sebagai manusia, bagian dari masyarakat, civitas akademika. Berdasarkan
segala potensi dan posisi kita itu, maka kita memiliki peran dalam kehidupan
sehari-hari.

 

Potensi-potensi
yang ada di atas cenderung lebih mengarah ke pergerakan mahasiswa dalam hal
akademis dan organisasi. Akan sangat baik jika dua peran itu berjalan lancar
karena kita sebagai mahasiswa memang diharapkan oleh masyarakat untuk membawa
perubahan ke arah yang lebih baik. Tapi bagaimana dengan cinta? Slogan “in
harmonia progressio” mengharapkan mahasiswa untuk bergerak secara harmonis, dan
ada unsur cinta juga tertuang di sana.

 

Potensi, posisi
dan peran mahasiswa tidak mencakup unsur cinta. Apakah mahasiswa dianggap belum
pantas untuk terlibat dengan cinta? Apakah cinta dianggap mengganggu peran
mahasiswa? Memang banyak kejadian dimana cinta mengganggu peran individu (dalam
hal ini mahasiswa) untuk bebas bergerak, tapi tidak sedikit juga seseorang
mendapatkan semangat untuk bergerak setelah mendapat dukungan moral dari cinta.
Dalam kasus seperti ini apakah cinta hanya sekedar dianggap sebagai pelengkap
atau penambah semangat? Setau aku, cinta lebih dari sekedar itu, baik bagi
mahasiswa maupun manusia pada umumnya.

 

……………………..aduh
ga jelas gini, maap yak……………..

 

 

 

DAMAIroom, 7 agustus 2006Bergas bimo branarto