Archive for September, 2006

bingung judulnya apa

Thursday, September 21st, 2006

Dulu waktu gw masih sekolah, pernah disuruh bikin karya
tulis. Gw nulisnya ngasal banget, menurut gw ga penting ada abstrak, kata
pengantar, pendahuluan, isi trus penutup. Kaya cuma basa-basi doang, kenapa ga
langsung isinya aja?

 

Ternyata sekarang gw baru nyadar, orang-orang yang
omongannya selalu didengerin sama orang lain tuh yang pake struktur itu.

1. pertama dia jelasin latar belakang (abstrak),

2. hal-hal yang jadi pegangan dia (dasar teori)

3. data-data yang ada

4. apa yang mau dia lakukan (tujuan, sistematika
penulisan)

5. isi permasalahan yang merupakan analisis dari
data-data yang udah dia olah (pengolahan data, analisis)

6. kesimpulan dari apa yang udah dia ceritain.

7. Kalo ada yang masih sangsi dengan teori yang dia
kemukakan, dia akan ngasih tau dari mana dia dapet teori-teori itu (daftar
pustaka).

 

Dia didengerin karena dia nyampeinnya secara runtut, ada
sebab ada akibat, jadi kerasa banget kalo dia menguasai masalah. Selain itu,
semua yang dia omongin tuh isinya informasi dan fakta, dia bisa membuktikan
semua omongannya.

 

Ternyata metode ilmiah emang harus diterapkan di
kehidupan sehari-hari. Mulai dari pola pikir yang selalu nyari sebab dari tiap
kejadian, solusi untuk tiap masalah, sampe gimana cara kita nyampein pikiran
kita ke orang-orang. Metode ilmiah yang biasanya kita anggep nyusahin ternyata
tujuannya untuk mempermudah kita juga.

 

……….(gw jadi terharu nih masuk fisika MIPA) =>
ga nyambung ya?……….

 

Gw ga tau sih yang mbaca ini pada nangkep maksud gw atau
nggak, kalo menurut gw sih gw udah nyampein dengan struktur di atas. Kalo masih
ada yang ga nangkep maksud gw ya berarti gw masih kurang latihan lagi. Saya
harap tulisan ini bisa berguna bagi pembaca. Terima kasih atas perhatiannya…

 

 

 

DAMAIroom, 15
september 2006

 

Bergas bimo
branarto

surga

Thursday, September 21st, 2006

Dikatakan surga itu adalah sebuah tempat dan atau suasana
dimana kita bisa dapetin semua yang kita inginkan. Tempatnya bagus dan tentram.
Semua yang kita butuhkan tinggal diambil aja. Ga ada permusuhan, semua yang ada
disana ramah satu sama lain. Pokoknya oke banget deh… Untuk bisa sampe ke
surga, kita harus bertingkahlaku baik, Saling menghargai satu sama lain, saling
menolong, dan lain-lain (pokoknya PPKN banget lah!).

 

Hal itu merupakan konsep, bukan fakta, karena tidak ada
yang bisa membuktikan kebenarannya.

 

Sebenernya surga itu udah ada (diciptakan sama tuhan)
atau kita diciptakan untuk menciptakan surga?

Bayangkan kalo semua orang udah ngikutin ajaran tuhan, keadaannya pasti
tentram, aman, selalu ada kemudahan di sana-sini, ga ada permusuhan. Suasana
kaya gitu kan sama kaya yang digambarkan tentang surga.

 

Banyak orang yang kalo ditanya tujuan hidupnya akan
menjawab bahwa dia ingin masuk surga. Mereka mengatakan bahwa mereka dikasih
kelebihan sama tuhan untuk dimaksimalkan dan digunakan dengan sebaik-baiknya
(sebagai ungkapan syukur), sehingga pas mereka meninggal mereka akan masuk
surga. Mungkin ga kalo kelebihan yang dikasih tuhan ke kita tuh untuk
dimaksimalkan dan tujuannya untuk mewujudkan konsep surga dalam kehidupan kita.
Kalo emang gitu berarti manusia menciptakan surganya sendiri.

 

Jiwa adalah energi. Saat kita mati, jiwa kita tidak lagi
bersatu dengan raga. Dikatakan yang akan pergi ke surga adalah jiwa kita.
Berarti jiwa kitalah yang akan merasakan kenikmatan surga. ‘rasa’ dimiliki oleh
otak. Saat jiwa tidak bersatu dengan raga (otak adalah bagian dari raga)
berarti jiwa tidak memiliki ‘rasa’ sehingga tidak mungkin merasakan sesuatu
termasuk kenikmatan surga. Berarti kita hanya mungkin merasakannya hanya selama
kita hidup.

 

Kalo diambil kesimpulan, berarti surga berada di dalam
kehidupan kita, sebelum kita mati. Melihat keadaan dunia sekarang, terlihat
masih jauh dari konsep surga. Berarti jika tujuan hidup kita adalah merasakan
kenikmatan surga, maka semua yang kita lakukan (didasari ajaran tuhan)
bertujuan untuk menciptakan surga. Kitalah yang harus menciptakan surga,
melalui tingkah laku kita. Gitu bukan?

 

 

DAMAIroom,
16 september 2006

 

Bergas
bimo branarto

doa

Thursday, September 21st, 2006

Doa, selain berisi permintaan kepada tuhan, juga bisa
diisi dengan ungkapan syukur. Permintaan bisa macam-macam, tapi secara umum
bisa disimpulkan bahwa permintaan itu bertujuan untuk memperoleh kehidupan yang
lebih baik.

 

Tuhan maha tau, berarti dia tau masa depan kita juga.
Gimana bisa tau, kejadian juga belom? Berarti dia dong yang mengatur semuanya…
Tuhan maha baik, berarti semua yang dia atur untuk kita adalah yang terbaik
untuk kita. Jika kita menyampaikan suatu permintaan dalam doa berarti kita meminta
sesuatu yang sebetulnya udah dia atur untuk kita. Kemungkinan lain kita meminta
perubahan dalam ‘garis’ yang udah dia atur untuk kita.

 

Semuanya tentang kehidupan kita udah diatur olehnya, lalu
untuk apa lagi kita meminta sesuatu? Selain itu Tuhan maha baik kan? Berarti
yang telah dia atur pun pasti sesuatu yang baik untuk kita. Kalo kita minta
perubahan dari ‘garis’ yang dia buat untuk kita, berarti nunjukin kalo kita ga
percaya bahwa dia udah ngasih yang terbaik dong?

 

Kita dikasih kehidupan dan kelebihan sama tuhan, udah
sepatutnya kita bersyukur dan berterima kasih. Aku pake analogi manusia. Saat
seseorang memberi sesuatu pada yang lain, orang itu akan lebih seneng kalo
pemberian itu digunakan dengan baik daripada kalo si penerima terus-terusan
ngomong makasih. Berarti cara terbaik kita untuk ungkapkan syukur ke tuhan
adalah dengan memaksimalkan dan memanfaatkan kelebihan-kelebihan dan kehidupan
yang dikasih dengan cara yang kongkret dalam kehidupan sehari-hari, ga perlu
melalui doa.

 

Manusia emang ga bisa disamain sama tuhan karena manusia
jauh lebih rendah daripada tuhan. Tapi kalo manusia aja lebih seneng pemberiannya
digunakan dengan baik daripada sekedar ngomong makasih, apalagi dengan tuhan
yang jauh lebih bijak daripada manusia…

 

Trus sebenernya apa sih makna ‘doa’ itu?

 

 

 

DAMAIroom,
16 september 2006

 

Bergas
bimo branarto

emosi

Tuesday, September 5th, 2006

Segala macem emosi harus dicurahkan atau dilampiaskan dalam bentuk apa pun. Sesuatu jika terlalu banyak ditahan maka akan menimbulkan tekanan yang makin lama makin besar, sehingga akan meledak sewaktu-waktu. Dan ledakan yang tiba-tiba biasanya menimbulkan efek kerusakan yang lebih panjang daripada ledakannya sendiri, baik untuk ‘sesuatu’ itu sendiri maupun lingkungan di sekitarnya.

Untuk beberapa orang, emosi sering diidentikkan dengan kemarahan. Bagi mereka pelampiasan emosi yang paling tepat adalah membuat keributan atau perkelahian. Mereka akan merasa puas kalau pelampiasan mereka bisa membuat mereka menjadi lebih superior dari yang lain. Untuk beberapa orang lain lagi, ada yang memilih untuk diam dan melampiaskannya dengan memikirkan kenapa mereka bisa merasakan emosi, dengan alasan yang obyektif. Dengan demikian mereka tau hal-hal yang membuat mereka emosi dan di lain waktu mereka bisa menghindari penyebab emosi itu atau memikirkan cara yang lebih efektif untuk melampiaskan emosi mereka, sehingga mereka bisa mengontrol emosi mereka.

Tipe pertama mungkin akan tepat dilakukan jika kita masih hidup di jaman purba, sebelum manusia menyadari kalau dirinya memiliki otak.

Kita semua setuju dengan pernyataan “musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri”. Tipe pertama lebih senang melampiaskan emosinya pada orang lain, padahal musuh terbesarnya adalah diri mereka sendiri, jadi bisa disimpulkan mereka adalah orang-orang pengecut yang ga berani ngelawan musuh utamanya.

Tipe pertama punya pola pikir:
Kejadian  emosi  pelampiasan  akibat  bagaimana pertanggungjawabannya?

Tipe kedua:
Kejadian  kenapa dan bagaimana harus beremosi?  pelampiasan  akibat  tanggung jawab.

Terlihat banget tipe kedua memiliki kemampuan berpikir tiga tingkat di atas tipe pertama. Jika kita berani mengaku bahwa kita adalah manusia modern maka kita pun harus mengikuti perkembangan otak seperti mengikuti perkembangan teknologi. Makin tinggi tingkatannya berarti makin modern. Sejauh ini banyak dari kita yang selalu berkata kita adalah manusia modern tapi hampir tidak pernah membuktikan itu pada dirinya sendiri.

Mungkin aku termasuk tipe pertama, atau kedua, atau bahkan mungkin tidak diantara keduanya. Tapi itu ga penting untuk kalian, dalam hal ini aku ga harus membuktikan apa pun pada orang lain. Aku cuma perlu buktikan itu pada diriku sendiri.

DAMAIroom, 29 agustus 2006
Bergas bimo branarto

istirahat

Tuesday, September 5th, 2006

Semua orang butuh istirahat.
istirahat = berhenti mengerjakan apa yang sedang kita lakukan, tujuannya untuk me-refresh energi yang keluar. Ada kalanya orang tidak bisa istirahat, otak terus melakukan kegiatan. Mungkin otak sedang mencari solusi bagaimana caranya untuk istirahat. Otak sedang mencari cara untuk menghentikan kegiatan.

sehingga, istirahat berarti kita harus berhenti cari cara untuk menghentikan kegiatan. Hal itu adalah suatu proses. Proses = kegiatan, berarti kita harus menghentikan itu juga. Jadinya kita harus menghentikan diri untuk berhenti cari cara menghentikan kegiatan. Padahal itu juga suatu proses, jadi kita harus berhenti menghentikan diri untuk berhenti cari cara menghentikan kegiatan, dan seterusnya.

Kalo diurutin jadinya:
0. cari cara menghentikan kegiatan (selanjutnya cukup disebut ‘kegiatan’)
1. menghentikan kegiatan.
2. berhenti menghentikan kegiatan.
3. menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
4. berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
5. menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
6. berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
7. menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
8. berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
9. menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
10. berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
11. menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghentikan kegiatan.
12. berhenti menghentikan diri untuk berhenti menghen……..

Ada yang mau gantiin aku untuk ngelanjutin ga? Aku pengen istirahat nih, udah pagi……..

DAMAIroom, 4 september 2006

Bergas bimo branarto

pelacur

Tuesday, September 5th, 2006

semua orang tuh ngelacur; ada yang ngaku, ada yang ga ngaku..

intinya adalah semua yang kita lakukan pasti mengharapkan timbal balik, entah dalam bentuk materi atau pujian atau mengharapkan pamrih suatu hari atau mengharapkan kepuasan pribadi. ga pernah ada sesuatu yang tulus yang kita lakukan.

Temen kita ada kesulitan, kita pasti tergerak untuk bantuin, karena ada suatu perasaan bahwa suatu saat kalau kita kesulitan akan ada orang yang bantuin atau kita menginginkan kepuasan karena teman kita ga kesulitan lagi. Sangat manusiawi. Orang kerja untuk dapet uang untuk menuhin kebutuhannya. Orang belajar untuk dapet ilmu. Orang menolong untuk dapet pertolongan.

Istilah “tulus” berarti kita melakukan sesuatu tanpa mengharapkan apa2. Bullshit kalo orang bilang cinta itu tulus. Saat kita cinta seseorang kita pasti akan mengharapkan kalo orang itu juga punya perasaan yang sama dengan kita, atau paling tidak kita mendapatkan rasa puas karena memberi sesuatu ke orang yang kita sayang. Dalam suatu pertemanan pun kita pasti ngambil sesuatu dari temen kita. kita selalu ngambil manfaat dan keuntungan dari semua yang kita lakukan. Agama pun mengajarkan bahwa kita harus mengambil hikmah dari yang telah terjadi. Kita selalu ingin “mengambil” dan “mendapatkan” sesuatu dari semua hal yang terjadi terutama yang kita lakukan.

Berarti istilah “tulus” adalah suatu istilah untuk hal yang ga pernah terjadi?
Trus buat apa ada istilah “tulus”?

DAMAIroom, 27 agustus 2006

Bergas bimo branarto

obyektivitas

Tuesday, September 5th, 2006

Salah satu cara mendapatkan keadilan adalah dengan tetap bersikap obyektif dalam memandang semua hal. Kebenaran tidak bernilai mutlak. Semua hal memiliki dua nilai; benar dan salah. Dari satu sudut pandang mungkin suatu hal bernilai benar, tapi menurut sudut pandang yang lain hal itu adalah salah.

Obyektif adalah keadaan dimana kita memandang semua hal sebagai obyek, dan kita berada diluar obyek itu sehingga bisa melihat dengan sudut pandang netral, tidak memihak. Dengan itu kita bisa melihat semua fakta dan menilai benar atau salahnya. Sikap obyektif berarti kita terus mempertanyakan “kenapa benar” dan “kenapa salah”.

Jelas kita ga bisa terus bersikap netral tanpa memihak. Kita pasti butuh sesuatu untuk dijadikan pegangan. Hal yang menjadi pegangan kita adalah (pasti) sesuatu yang membuat kita nyaman. Untuk itu kita harus menghentikan pertanyaan “kenapa benar” dan “kenapa salah” karena pertanyaan itu ga akan ada habisnya dan kita ga akan pernah menemukan satu hal yang mutlak kebenarannya. Dari semua data yang udah kita peroleh dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, kita bisa memilih yang mana yang paling membuat kita nyaman. Dan pilihan kita itu tentunya yang paling baik untuk kita.

Berarti kita ga obyektif dong?

Bukan gitu. Kita udah punya pegangan yang terbaik untuk kita. Dan pegangan itu adalah yang paling benar untuk kita. Yang perlu dipertimbangkan adalah: semua orang telah melewati proses masing-masing untuk mendapatkan pegangan masing-masing. Dan semua orang memilih yang terbaik dan paling nyaman untuk diri masing-masing. Terbaik untuk kita bukan berarti terbaik untuk orang lain. Nyaman untuk kita bukan berarti nyaman untuk orang lain. Akan ada banyak sekali perbedaan karena proses pencarian bagi masing-masing orang berbeda.

Sikap obyektif berarti kita mengakui sudut pandang orang lain, bahwa apa pun yang mereka pilih adalah yang terbaik untuk mereka. Dan pilihan mereka benar untuk diri mereka sendiri, sama seperti pilihan kita benar untuk diri kita sendiri. Kita akan merasa nyaman kalau kita telah menemukan pilihan yang tepat untuk diri kita, itu adalah privacy kita dan kita sangat bebas untuk memlih. Begitu juga dengan orang-orang lain yang mungkin memiliki pilihan berbeda dengan kita. Dan pada saat diri kita merasa nyaman, kita tidak akan merasa perlu mempermasalahkan apa pilihan orang lain.

Kondisi “tentram” tercipta bukan karena kita semua punya pilihan yang sama, tapi karena kita bersikap obyektif dan mengakui perbedaan masing-masing orang. Satu hal lagi yang paling penting adalah kita semua punya satu tujuan, yaitu tetap menjaga obyektivitas diri kita masing-masing.

DAMAIroom, 30 agustus 2006

Bergas bimo branarto