Archive for January, 2007

all bout life

Wednesday, January 24th, 2007

Tiap kali gw ngobrol sama orang, gw dapet kesimpulan kalo orang2 itu akan merasa lebih hidup kalo dia merasa dibutuhkan. Dengan rasa dibutuhkan itu dia akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan hal2 yang sifatnya menolong atau membantu orang atau hal lain yang sedang kesulitan.

Berarti secara garis besar orang akan merasa lebih hidup dengan adanya tanggung jawab. Ada tanggung jawab berarti ada hal yang harus dilakukan. Dan hal yang dilakukan itu tidak sekedar untuk dirinya sendiri.

Yah, kebayang lah apa yg kira2 dirasain sama orang2 yang terus menerus melarikan diri dari tanggung jawabnya…

DAMAIroom, 22 januari 2007

Bergas bimo branarto

teknologi terbaru

Thursday, January 18th, 2007

teknologi dikembangkan dengan tujuan untuk memudahkan kehidupan manusia. tapi dengan kemajuan teknologi yang cepat, ada efek negatif juga yaitu bikin orang jadi males.

males jalan karena udah ada mobil atau motor, males keluar rumah karena ada tv, males pergi ke toko karena udah bisa beli barang pake internet. internet juga nyediakan fasilitas chat untuk ngobrol2 sama orang yang jauh banget, yg akan butuh tarif mahal kalo nelpon dan butuh waktu luang utk ktemu.. intinya semua itu untuk memudahkan, dan memanjakan orang2.

rasa malas dan manja ini menimbulkan efek2 negatif lainnya kaya ga berkembangnya perekonomian, dan lain2.

melihat dari efek negatif ini, beberapa pihak mungkin beranggapan bahwa teknologi tetap harus membuat orang tidak malas bergerak.

contohnya, salah satu institut teknik tertua di indonesia, yg bertempat di bandung (baca:itb), telah menerapkan sistem pengisian formulir rencana studi melalui internet. berarti orang yang males seperti gw bisa ngisi form di jakarta dong… ternyata tetap gw ga dibolehin males sama itb, dengan teknologi majunya itu, mahasiswa cuma bisa mengakses pengisian FRS melalui jaringan dalam kampus itb, yang berarti tetep harus ke bandung… what a technology!!!

ada satu pertanyaan, kalo tetep harus ke kampus, ngapain harus online segala? malah ngerepotin, nantinya harus ngeprint lagi, perwalian lagi, blablabla… intinya mah malah lebih repot daripada pake formulir LJK… what a technology!!!

hal itu menunjukkan teknologi maju atau justru teknologi tanggung?

sungguh ironis…

reni jaya, 18 januari 2007

bergas bimo branarto

culture

Tuesday, January 9th, 2007

Seorang teman pernah nanya pendapatku tentang akar penyebab lemahnya SDM di Indonesia. Kujawab bahwa menurutku hal itu disebabkan oleh kultur yang salah sehingga menyebabkan kesalahan pola pikir dan akhirnya merembet kemana-mana. Dia mengatakan penyebabnya adalah kualitas pendidikan yang buruk dan tidak merata.

Indonesia terkenal dengan sumber daya alam yang makmur, tanah subur, daerah tropis sehingga memungkinkan banyaknya ragam tanaman. Dengan menanam tanaman yang bisa dijadikan makanan, memelihara ternak yang bisa dimakan, orang Indonesia tidak perlu bersusah payah bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Dan karena keadaan seperti itu merata di berbagai tempat, orang Indonesia tidak merasa perlu untuk lebih meningkatkan kualitas hidupnya. Kasarnya sih, “asal bisa hidup ya udah.”.

Keadaan seperti itu berlangsung turun temurun dan hingga kini masih banyak daerah di Indonesia yang masih menerapkan kehidupan seperti itu.

Di beberapa kota besar keadaannya telah berubah. Tontonan tentang kemewahan dan gaya hidup orang barat banyak diperoleh melalui televisi dan lingkungan, sehingga orang-orang yang hidup di kota itu pun terpacu untuk mengikuti gaya hidup mereka yang serba teknologi.

Karena teknologi membutuhkan biaya lebih untuk mendapatkannya, maka untuk mengejar itu mereka akan berusaha lebih keras. Mereka belajar selain untuk mendapat ilmu, mereka juga memerlukan ijazah agar bisa bekerja di tempat yang bisa memberikan gaji tinggi. Hal itu mengakibatkan tingginya persaingan di bidang pendidikan di daerah itu, sehingga kualitas pendidikan pun akan ikut terpicu. Hal itu juga yang menyebabkan pendidikan di Indonesia tidak merata.

Dari gambaran tadi, aku menyimpulkan bahwa titik awalnya adalah kultur (adat) lalu meluas ke pergaulan dan gaya hidup, lalu berkembang ke pendidikan yang tujuannya untuk meningkatkan status ekonomi.

Pendidikan bukanlah hal yang konstan. Pendidikan berkembang sesuai kebutuhan, jika kebutuhan tidak meningkat maka pendidikan pun tidak akan meningkat.

Kultur yang enggan bersaing dan bekerja keras mengakibatkan kebutuhan yang tidak meningkat sehingga pendidikan cenderung stagnan dan bahkan menurun, dan mengakibatkan ekonomi yang juga stagnan.

Kultur didapat dari karakter masyarakat. Karakter didapat dari kebiasaan masyarakat. Kebiasaan masyarakat didapat dari kebiasaan individu. Dari struktur ini terjawablah apa akar penyebab lemahnya SDM di Indonesia.

DAMAIroom, 7 Desember 2006

Bergas Bimo Branarto