Archive for June, 2008

tanah

Tuesday, June 24th, 2008

dari pertama aku lihat dunia

aku langsung sadar, bahwa semua hal

akan terjatuh kepadaku

semua hal..

SEMUA HAL!!

tai yang terlempar dari pembuangan binatang,

kencing yang tercucur sampai akhirnya menggenang,

ludah dari hewan-hewan yang dipenuhi nafsu

dan ada saatnya aku muak dengan itu semua,

dan ketika saat itu tiba

kubentakkan semua gelegak yang telah lamaku pikir dan rasakan

kuteriakkan pada mereka

"hoi hewan-hewan keparat,
tidak cukup kalian injak-injak aku,

sekalian juga kalian beraki aku, kencingi aku, ludahi aku.

tapi seperti biasanya,
aku hanya mempertanyakan

saat kalian melakukan itu semua terhadapku,

apakah kalian lupa,

apakah kalian tidak sadar bahwa kalian bermula dari aku

dan berakhir menjadi aku,

seperti halnya aku adalah mahluk seperti kalian

pada generasi sebelum kalian…"

ketika itu juga mereka menangis,
mereka berkeringat..

dan air mata dan keringat mereka juga berlelehan
membanjiri aku..

percaya kan,
semua hal akan terjatuh padaku..

aku sendiri hanyalah sebutir partikel

yang bahkan aku sendiri tidak tau ukuranku,

tapi aku selalu berkumpul dengan mahluk-mahluk seperti aku

sehingga kumpulan dari sebutir demi sebutir "aku" menjadi satu

dan menyebut dirinya AKU,

dan hewan-hewan keparat itu menyebut AKU sebagai tanah..

dasar hewan-hewan keparat yang bodoh;

kalian berbeda karena nalar,

tapi aku lihat kalian sebagai

"hewan-keparat-bodoh-yang-berharap-memiliki-nalar"

kalian bahkan tidak sadar,

setelah kalian memperlakukanku sedemikian rupa,

kalian berpijak kepadaku dengan kepala kalian,

sehingga mata kalian tepat berada pda ludah yang kalian lepehkan,

hidung kalian tepat berada pada kencing yang kalian cucurkan,

dan mulut kalian,

tepat berada pada tai yang kalian lemparkan dari pembuangan kalian sendiri…

aku cuma seonggok tanah

tapi aku lihat kalian dengan jelas
aku tidak mengecam kalian

tapi aku mempertanyakan:

"hoi manusia,
yakinkah kalian,

bahwa kalian bukan sekedar hewan-keparat-bodoh-yang-berharap-memiliki-nalar????"

karang tumaritis 200408

bergas bimo branarto

kebebasan ber-agama

Tuesday, June 3rd, 2008

Beberapa orang menyatakan “ngapain sih ngomongin agama? yang penting implementasinya dalam kehidupan…”. Hidup ini terlalu singkat untuk terus mempertanyakan kenapa begini dan kenapa begitu. Ngapain juga mikirin kenapa ada orang yang memerlukan agama, kenapa ada orang lain yang dapat melangsungkan hidupnya tanpa agama, jalanin aja tanpa saling mengganggu.. Yah, agama memang ditujukan untuk memperoleh ketenangan individu dan ketenangan tersebut diharapkan akan memicu tumbuhnya kedamaian dan toleransi dalam kehidupan sosial antar individu.

Tiap individu akan memiliki pandangannya sendiri dalam memaknai agama. Ada yang menikmati agama, ada juga yang tidak dapat menikmati agama. Ada yang menganggap agama itu penting, ada yang tidak membutuhkan agama. Banyak perbedaan mendasar yang disebabkan oleh perbedaan pandangan manusia dalam memaknai kebenaran. Kebenaran dihasilkan dari pemikiran yang rasional. Rasionalitas tiap orang jelas berbeda. Berarti kebenaran tiap orang juga akan berbeda.

Dalam kebutuhan akan agama pun, bisa banyak implementasinya. Ada orang yang merasa cukup hanya dengan menikmati dan menjalankan konsekuensi dari agama itu, ada yang menikmati dan lalu menyebarluaskan agama itu kepada lingkungan terdekatnya, dan ada juga yang akhirnya menjual agama demi keuntungan pribadinya. Kembali lagi, itu semua didasari tentang makna kebenaran dan kebutuhan tiap-tiap orang terhadap agama, tidak ada salah dan tidak ada benar yang mutlak keberadaannya.

Fenomena penjualan agama terus menjadi kegiatan ekonomi yang marak. Walaupun telah banyak oknum-oknum yang tertangkap, dengan berbagai metode yang terselubung, tapi masih banyak saja pihak-pihak yang terus menjalankan kegiatan ini. Tidak salah kalau ada penjualan agama, karena pembeli agama masih berkeliaran dimana-mana. Ada penjual, maka ada pembeli, ada pembeli maka ada penjual.

Kenapa tidak ditindak? Hahaha, klo soal ini saya malah akan bertanya balik, siapa yang harus menindak? Mungkin bahkan para penjual agama ini berkomplot dengan penegak hukum, so siapa yang bisa menindak mereka kalau begitu kejadiannya. Melihat hal ini, ada orang yang akhirnya bertanya, kemana perginya moral bangsa kita? Dan kembali saya akan balik bertanya, apa itu moral dan bagaimana jika kondisi memaksa kita untuk memberi makan diri sendiri dan keluarga dengan mengorbankan moral untuk mendapatkannya?

Biarkan saja orang-orang menjual agama, toh mereka menjual itu karena ada pembelinya.. Jangan juga kita menyalahkan para pembelinya, karena mereka memiliki alasan tersendiri untuk itu. Mereka memiliki kebenaran mereka sendiri, seperti halnya kita juga memiliki kebenaran kita sendiri. Segala perbedaan tentu bisa ditangani dengan adanya toleransi, asal tidak saling mengganggu ya biarin aja lah..

Terus mengejar para penjual agama hanya akan memahalkan harga agama, tapi tidak akan mengurangi jumlah pembelinya.. kenapa penjualan agama tidak dilegalkan saja, toh pembeli selalu ada dan peminatnya juga terus bertambah, hal itu kan bisa meningkatkan devisa.. berikan aja pajak dalam pembelian agama, yang akan tertolong adalah seluruh masyarakat indonesia (jika penanganan pajak sesuai dengan prosedur hukum).

Saya sendiri semakin merindukan agama yang bebas. Saya sangat mendambakan adanya toleransi yang tinggi antar individu. Saya sangat mengharapkan saat agama tidak lagi dipermasalahkan. Saya senang sekali jika setiap orang bisa mendapatkan apa pun yang mereka butuhkan. Saya akan mencintai kondisi dimana tiap kebutuhan individu tidak mengganggu kebutuhan individu lainnya. Saya ingin sekali adanya ikatan yang lebih dari sekedar pro/kontra-agama, tetapi pada ikatan kita semua adalah manusia yang memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Intinya, ada pada toleransi, itulah yang diinginkan oleh para penganut agama.

Hidupkan kebebasan ber-agama!!!

DAMAIroom Sociotech ‘n Art, 3 juni 2008

Bergas Bimo Branarto

Nb:
agama = Alkohol GAnja MAsrum