kebebasan ber-agama

Beberapa orang menyatakan “ngapain sih ngomongin agama? yang penting implementasinya dalam kehidupan…”. Hidup ini terlalu singkat untuk terus mempertanyakan kenapa begini dan kenapa begitu. Ngapain juga mikirin kenapa ada orang yang memerlukan agama, kenapa ada orang lain yang dapat melangsungkan hidupnya tanpa agama, jalanin aja tanpa saling mengganggu.. Yah, agama memang ditujukan untuk memperoleh ketenangan individu dan ketenangan tersebut diharapkan akan memicu tumbuhnya kedamaian dan toleransi dalam kehidupan sosial antar individu.

Tiap individu akan memiliki pandangannya sendiri dalam memaknai agama. Ada yang menikmati agama, ada juga yang tidak dapat menikmati agama. Ada yang menganggap agama itu penting, ada yang tidak membutuhkan agama. Banyak perbedaan mendasar yang disebabkan oleh perbedaan pandangan manusia dalam memaknai kebenaran. Kebenaran dihasilkan dari pemikiran yang rasional. Rasionalitas tiap orang jelas berbeda. Berarti kebenaran tiap orang juga akan berbeda.

Dalam kebutuhan akan agama pun, bisa banyak implementasinya. Ada orang yang merasa cukup hanya dengan menikmati dan menjalankan konsekuensi dari agama itu, ada yang menikmati dan lalu menyebarluaskan agama itu kepada lingkungan terdekatnya, dan ada juga yang akhirnya menjual agama demi keuntungan pribadinya. Kembali lagi, itu semua didasari tentang makna kebenaran dan kebutuhan tiap-tiap orang terhadap agama, tidak ada salah dan tidak ada benar yang mutlak keberadaannya.

Fenomena penjualan agama terus menjadi kegiatan ekonomi yang marak. Walaupun telah banyak oknum-oknum yang tertangkap, dengan berbagai metode yang terselubung, tapi masih banyak saja pihak-pihak yang terus menjalankan kegiatan ini. Tidak salah kalau ada penjualan agama, karena pembeli agama masih berkeliaran dimana-mana. Ada penjual, maka ada pembeli, ada pembeli maka ada penjual.

Kenapa tidak ditindak? Hahaha, klo soal ini saya malah akan bertanya balik, siapa yang harus menindak? Mungkin bahkan para penjual agama ini berkomplot dengan penegak hukum, so siapa yang bisa menindak mereka kalau begitu kejadiannya. Melihat hal ini, ada orang yang akhirnya bertanya, kemana perginya moral bangsa kita? Dan kembali saya akan balik bertanya, apa itu moral dan bagaimana jika kondisi memaksa kita untuk memberi makan diri sendiri dan keluarga dengan mengorbankan moral untuk mendapatkannya?

Biarkan saja orang-orang menjual agama, toh mereka menjual itu karena ada pembelinya.. Jangan juga kita menyalahkan para pembelinya, karena mereka memiliki alasan tersendiri untuk itu. Mereka memiliki kebenaran mereka sendiri, seperti halnya kita juga memiliki kebenaran kita sendiri. Segala perbedaan tentu bisa ditangani dengan adanya toleransi, asal tidak saling mengganggu ya biarin aja lah..

Terus mengejar para penjual agama hanya akan memahalkan harga agama, tapi tidak akan mengurangi jumlah pembelinya.. kenapa penjualan agama tidak dilegalkan saja, toh pembeli selalu ada dan peminatnya juga terus bertambah, hal itu kan bisa meningkatkan devisa.. berikan aja pajak dalam pembelian agama, yang akan tertolong adalah seluruh masyarakat indonesia (jika penanganan pajak sesuai dengan prosedur hukum).

Saya sendiri semakin merindukan agama yang bebas. Saya sangat mendambakan adanya toleransi yang tinggi antar individu. Saya sangat mengharapkan saat agama tidak lagi dipermasalahkan. Saya senang sekali jika setiap orang bisa mendapatkan apa pun yang mereka butuhkan. Saya akan mencintai kondisi dimana tiap kebutuhan individu tidak mengganggu kebutuhan individu lainnya. Saya ingin sekali adanya ikatan yang lebih dari sekedar pro/kontra-agama, tetapi pada ikatan kita semua adalah manusia yang memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Intinya, ada pada toleransi, itulah yang diinginkan oleh para penganut agama.

Hidupkan kebebasan ber-agama!!!

DAMAIroom Sociotech ‘n Art, 3 juni 2008

Bergas Bimo Branarto

Nb:
agama = Alkohol GAnja MAsrum

4 Responses to “kebebasan ber-agama”

  1. GLenN Says:

    seriusan agama yg dimksud tuh..
    agama = Alkohol GAnja MAsrum

  2. Ivan Wijaya Says:

    gw sendiri pun juga bingung kenapa ada agama yang diperjual belikan,,padahal agama itu datang dari keyakinan sendiri…Agama sudah di sediakan, tapi ga di ambil sendiri..malah beli…ngapain..??

    Agama kenapa bisa membuat orang menjadi perang…padahal agama sendiri memiliki karakter yang baik dan menyenangkan…kalau AGAMA itu sudah melekat di diri kita sendiri..

    coba agama tuh yang loe maksud,pasti tentram dunia,,have fun,,damai ma gesrek

  3. putri Says:

    hmm,,,yg paragraf pertama itu jelas2 mendeskripsikan arti agama yg sebenernya (bukan alkohol ganja masrum), soalnya kata2 “..buat apa ngomongin agama,yg penting implementasiny”,itu nggak ad sangkut pautnya sama alkohol ganja masrum,soalnya yg namanya Alkohol Ganja masrum itu sama sekali nggak ada sisi positifnya, merugikan iya, jadi ngapain mesti pake implementasi lagi wong jelas2 merugikan. hmmm,,,klo soal paragraf yang lainnya bisa 2 arti,,,bisa dalam arti kata penjual dan pembeli alkohol ganja atau masrum, tapi melihat dari kutipan kata ” kenapa penjualan agama tidak dilegalkan saja” jelas2 di supermarket Penjualan Alkohol dilegalkan,, ada bir bintang, ada vodka, jadi ini lebih cenderung ke arti ‘agama’ yang sebenrnya, saya lebih nangkep arti ” kenapa penjualan agama tidak dilegalkan saja” lebih sebagai penjualan agama yaitu dalam KTP (pernah denger kan “ah…dia sih Islam nya Islam KTP,,,atau agama yang lain), jadi kan seolah2 kita buat KTP (atau klo lewat jalur belakang) kan mahal tuh, tapi cepet jadinya, jadi walaupun ada yang mungkin nggak beragama sekalipun, tetep aja harus ada kolom Agama yang dianut untuk diisi untuk pen sahan sebagai warga negara RI, jadi sama aja “beli agama”…sebenernya sih Agama itu adalah kepercayaan yang dianut oleh orang yg meyakininya, knapa manusia itu butuh keyakinan itu karna manusia itu punya akal & pikiran, pasti dong manusia itu klo punya OTAK bakal mikir, siapa yang udah ngeciptain dirinya dan udah membuat seluruh JAgad Raya Angkasa ini HIDUP berputar dan tertata rapi, yg ngasih makan seluruh makhluk hidup ini setiap harinya 24 jam non stop mulai dari virus smp segede gajah, dan nggak pernah ada yg sampe nggak seimbang dalam alam ini, soalnya klo nggak ada yg ngatur dalam alam ini, udha lama dunia ini nggak ada, NON SENSE klo ada yg bilang “ah itu mah emang udah sistem nya ky gn, secara sains bisa dijelaskan dari teori bla,,bla,,bla,,” tetep aja, emangnya tuh orang yg ngomong bla bla bla dapet otaknya dari siapa, bisa ngomong, ruh nya dari siapa?? wong hasil cloning smp skarang aja masih suka gagal, ya karna walaupun DNA nya ada, strukturnya bisa dibikn mirip, tapi Yang Ngasih Ruh nya nggak setuju itu makhluk jadi idup, ya nggak kan idup lah,,,so,,,get real aja deh,,, hmmm,,,balik lagi,,,knapa sih qta butuh Agama dalam hidup qta? tadi kan dibilang ngapain ngomongin agama yang penting implementasinya, yah emang bener, nggak usah ngomong ba bu ba ttg agama yg penting bukti dan perbuatan, tp yang pasti, untuk membuktikan melalui perbuatan tentunya qta harus yakin dulu sama yang namanya Pencipta qta, yah singkatnya “kenalan dulu” banyak buku2, atau sumber dari manapun, kitab2 yang bisa buat qta yakin, siapa Pencipta kita (yang udah ngasi kita akal, pikiran, dan rasa). Yah tapi balik lagi…klo pun sampe ada yang emang nggak bisa hidup dengan agama (istilahnya non agama) ya silahkan saja, setiap orang punya hak nya masing2, mereka pnya akal yg cukup untuk berpikir dan terus mencari, hanya orang2 sombong yang bisa berani bilang “bisa hidup tanpa agama”yah tapi nggak msalah, walaupun mungkin ada yg nggak nerima dengan kt2 itu toh Tuhan tetep ngasih dia rezeki buat tetep bertahan hidup. Jadi buat apa sebagai manusia pusing2 mencela atau mengasingkan oang yang “bisa hidup tanpa agama” toh Tuhan aja masih mau ngasih dia makan, so biar itu menjadi urusan Tuhan dengan nya.jadi sah2 aja kok klo yang merasa “bisa hidup tanpa agama”. tapi emang sayangnya di negara qta, udah jadi kewajiban menjadi warga negara RI yang beragama karena tuntutan sila 1 dalam pancasila yaitu mengakui keberadaan negara ini atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, so semua WNI hrs mengakui dan mebuat bukti dalam KTP kalau qta adalah WNI asli dengan predikat Agama A, B, C, D atau E.jadi saran sih, klo emang nggak pingin mahal “beli agama” (bikin KTP lewat jalur belakang) yah enakkan jadi orang yang Ikhlas apa adanya beragama, atau klo emang harus dilegalkan boleh ada yang tanpa Agama di negara ini, yah monggo2 saja, asal qta siap aja ngubah dasar negara kita dan nerima konsekuensi apapun (nggak tau tuh konsekuensi bakal ngebikin tambah negara kita bobrok atau tetep bobrok seperti sebelumnya-bobroknya nggak nambah, cuma tetep-).
    but, itu cuma pendapat saya aja, klo ada yg salah mungkin ya ma’af2 aja hehehehehe,,,
    abisnya lagih pusing juga nie mikirin mikro gak beres2 ^^ v

  4. gie Says:

    beuh hehehe gw muat di buletin y bim?:D

Leave a Reply